Perancangan Use Case Psychotherapy ke Dalam Design Awal Sistem Informasi

Posted: April 23, 2011 in Psikologi, Teknologi Informasi

1. Agora Phobia

A. Pendekatan

1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Melakukan rapport

> Memulai percakapan

> Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

> Memperkenalkan diri: basa- basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

> Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)

5. Post condition : Menggali informasi subjek

6. Actor who gets benefit :

#Klien

#Therapist

B. Menggali Informasi Subjek

1. Case name : Menggali informasi subjek

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Wawancara dan observasi → menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

# Eksplorasi kondisi klien → Apakah ada problem atau tidak:

> bagaimana Klien merumuskan problemnya

> apakah ini problem satu – satunya

# Identifikasi masalah dan penyebabnya:

> Latar belakang terjadinya masalah

^ sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut

^ sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien

^ apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut

5. Post condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

C. Memilih Terapi yang Tepat

1. Case name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Menggali informasi subjek

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Mengumpulkan informasi mengenai agorafobia:

> ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan atau membuat malu seseorang untuk kabur dari situ bila terjadi simtom-simtom panik atau suatu serangan panik yang parah.

> takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penuh sesak; berjalan di jalan yang ramai; naik bus, kereta api atau mobil; makan di rumah makan; atau keluar dari rumah.

> Memilih teknik CBT (cognitive-behavioral therapy): terapi ini berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan, dan sikap yang mendasarinya.

# Terapi yang digunakan oleh terapis adalah CBT (cognitive-behavioral therapy) dengan teknik in-vivo.

5. Post condition : Pelaksanaan terapi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

D. Pelaksanaan Terapi

1. Case name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Klien membentuk hirarki situasi yang menimbulkan kecemasan pada subyek dari situasi yang menghasilkan kecemasan paling kecil sampai situasi yang paling menakutkan (menuliskannya dalam daftar situasi yang dapat menimbulkan rasa cemas )

# Klien didorong untuk mengulang dan secara sistematis mengungkapkan situasi-situasi yang dapat menimbulkan rasa takut. Merasakan situasi itu sampai kecemasannya dapat menurun: misalnya pasien diajak berbelanja dengan ditemani terapis, kemudian sampai ke tahap dimana klien berani berbelanja seorang diri.

# Selama sesi aktual, terapis mengubah pemikiran maladaptif dari klien dengan mengajarkan bentuk self-statement (self-talk) yang positif.

5. Post condition : Evaluasi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

E. Evaluasi

1. Case name : Evaluasi

2. Pre condition : Pelaksanaan terapi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan agorafobia atau ketakutan klien terhadap tempat atau situasi ramai.

# Setelah dilakukan terapi: subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan agorafobia tersebut.

5. Post condition : Control Post Therapy

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

F. Control Post Therapy

1. Case name : Control post therapy

2. Pre condition : Evaluasi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Subjek mampu mengembangkan bentuk self-statement (self-talk) yang positif.

# Klien mampu nmengembangkan perilaku yang dapat membantu mereka untuk belajar # bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka.

5. Post condition : None

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

2. Anoreksia

A. Pendekatan

1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Melakukan rapport

> Memulai percakapan

> Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

> Memperkenalkan diri: basa- basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

> Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)

5. Post condition : Menggali informasi subjek

6. Actor who gets benefit :

#Klien

#Therapist

B. Menggali Informasi Subjek

1. Case name : Menggali informasi subjek

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Wawancara dan observasi → menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

# Eksplorasi kondisi klien → Apakah ada problem atau tidak:

> bagaimana Klien merumuskan problemnya

> apakah ini problem satu – satunya

# Identifikasi masalah dan penyebabnya:

> Latar belakang terjadinya masalah

^ sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut

^ sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien

^ apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut

5. Post condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

C. Memilih Terapi yang Tepat

1. Case name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Menggali informasi subjek

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Mengumpulkan informasi mengenai anoreksia:

> gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang.

> merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya sendiri, ia selalu merasa gemuk padahal menurut orang lain biasa-biasa saja.

> Ketakutan yang kuat mengalamin kenaikan berat badan atau menjadi gemuk, walaupun sesungguhnya memiliki berat badan kurang dari berat badan normal.

# Memilih teknik Terapi foto: dilakukan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit fisik maupun mental. Penyakit pola makan seperti anoreksia secara tidak langsung mempengaruhi bentuk tubuh, sehingga dari sisi fotografi akan terlihat sekali bentuk tubuhnya.

# Terapi yang digunakan oleh terapis adalah terapi foto

5. Post condition : Pelaksanaan terapi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

D. Pelaksanaan Terapi

1. Case name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Penderita anoreksia (klien) dibiarkan berpose sesukanya dengan berjalan kesana kemari sambil difoto.

# Setelah itu terapis menunjukkan hasil foto itu pada klien dan memberi pengarahan tentang bentuk tubuhnya yang tidak normal dan mencoba melihat kecantikannya dari sisi fotografi.

# Klien bisa bercerita dan mengungkapkan keluh kesahnya menderita sebuah penyakit, hal itu akan membantunya melepaskan beban dan stres yang dialaminya.

# Memulihkan keadaan nutrisi klien.

5. Post condition : Evaluasi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

E. Evaluasi

1. Case name : Evaluasi

2. Pre condition : Pelaksanaan terapi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan kelasahan klien dalam mempersepsi body image.

# Setelah dilakukan terapi: subjek dapat terbebas dari gangguan anoreksia.

5.  Post condition : Control Post Therapy

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

F. Control Post Therapy

1. Case name : Control post therapy

2. Pre condition : Evaluasi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Menimbang berat badan badan

# Konsultasi gizi apakah kebutuhan nutrisi klien sudah terpenuhi, setelah terapi yang sudah diberikan.

5. Post condition : None

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

 

3. Depresi

A. Pendekatan

1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Melakukan rapport

> Memulai percakapan

> Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

> Memperkenalkan diri: basa- basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

> Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)

5. Post condition : Menggali informasi subjek

6. Actor who gets benefit :

#Klien

#Therapist

B. Menggali Informasi Subjek

1. Case name : Menggali informasi subjek

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Wawancara dan observasi → menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

# Eksplorasi kondisi klien → Apakah ada problem atau tidak:

> bagaimana Klien merumuskan problemnya

> apakah ini problem satu – satunya

# Identifikasi masalah dan penyebabnya:

> Latar belakang terjadinya masalah

^ sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut

^ sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien

^ apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut

5. Post condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

C. Memilih Terapi yang Tepat

1. Case name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Menggali informasi subjek

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Mengumpulkan informasi mengenai depresi:

> perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur.

> pikiran negatif yang muncul secara konstan, pikiran-pikiran ini muncul secara otomatis. Artinya, pikiran ini muncul tanpa didasari usaha yang dilakukan secara sadar.

# Memilih teknik terapi Kognitif: klien belajar bagaimana cara menyadari dan memperbaiki pikiran-pikiran negatif yang otomatis ini. Seiring waktu, klien akan bisa menemukan dan memperbaiki keyakinan-keyakinan salah yang memicu depresinya.

# Terapi yang digunakan oleh terapis adalah terapi Kognitif.

5. Post condition : Pelaksanaan terapi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

D. Pelaksanaan Terapi

1. Case name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Klien diajak untuk memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian.

# Terapis akan mengajarkan dan mengenalkan kepada klien alat-alat yang digunakan dalam terapi. Kemudian, diantara sesi, klien akan diminta mengerjakan tugas tertentu. Tugas ini akan membantu klien mempelajari cara menggunakan peralatan dalam memecahkan masalah tertentu dalam kehidupan.

# Klien akan membuat perubahan kecil dalam hal pola pikir dan tingkah laku klien setiap hari.

# Kemudian, seiring waktu, perubahan-perubahan kecil ini akan memicu perbaikan mood dan penampilan yang akan bertahan selamanya.

5. Post condition : Evaluasi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

E. Evaluasi

1. Case name : Evaluasi

2. Pre condition : Pelaksanaan terapi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Harapan awal: terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan depresi yang dideritanya.

# Setelah dilakukan terapi: subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan gejala depresi.

5. Post condition : Control Post Therapy

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

F. Control Post Therapy

1. Case name : Control post therapy

2. Pre condition : Evaluasi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Subjek mampu mengembangkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving) sendiri.

# Perubahan dalam pola pikir dan tingkah laku klien.

5. Post condition : None

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s