PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI KE DALAM DESIGN AWAL SISTEM INFORMASI

Posted: March 20, 2011 in Knowledge, Psikologi, Teknologi Informasi

1. AGORAFOBIA

1. Pendekatan

Pada tahap pendekatan terapis membangun Rapport yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

  • Memulai percakapan
  • Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
  • Memperkenalkan diri
  • Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
  • Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll).

2. Menggali Informasi dari Subjek

Berdasarkan Rapport akan diketahui apa yang menjadi masalah klien, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan). Kemudian terapis berusaha untuk menggali informasi dari klien mengenai gangguan yang dialaminya melalui metode wawancara dan observasi dengan menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

1)      Eksplorasi kondisi klien

Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak:

→     Bagaimana Klien merumuskan problemnya

→     apakah ini problem satu – satunya

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya

Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan inti dari masalah yang dihadapi oleh klien. Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.  Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien, terutama alasan yang membuat klien mendatangi terapis. Terapis menanyakan mengenai apa yang menjadi penyebab atau melatarbelakangi gangguan itu, sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut, sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien, dan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut. Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Kemudian identifikasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa atau mengambil kesimpulan untuk menentukan jenis terapi yang tepat.

 

3. Memilih Terapi yang Tepat

Agorafobia melibatkan ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan atau membuat malu seseorang untuk kabur dari situ bila terjadi simtom-simtom panik atau suatu serangan panik yang parah. Orang-orang agorafobia takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penuh sesak; berjalan di jalan yang ramai; naik bus, kereta api atau mobil; makan di rumah makan; atau keluar dari rumah.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan mengenai agorafobia, terdapat beberapa terapi yang dapat digunakan untuk menangani gangguan ini, yaitu dengan teknik CBT (cognitive-behavioral therapy). Terapi ini berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan, dan sikap yang mendasarinya.

Dari beberapa terapi yang memungkinkan akan membantu menyelesaikan masalah klien, terapis akan memilih terapi yang diharapkan tepat untuk penanganan gangguan ini. Dalam kasus ini, terapi yang digunakan oleh terapis adalah teknik in-vivo.

 

4. Pelaksanaan Terapi

Terapi dengan menggunakan teknik in-vivo dilakukan dengan berbagai tahapan. Pertama, pemaparan sesi in-vivo (aktual) disusun dalam suatu seri pengalaman yang secara bertahap semakin menakutkan. Misalnya pasien diajak berbelanja dengan ditemani terapis, kemudian sampai ke tahap dimana klien berani berbelanja seorang diri. Selama sesi aktual, terapis mengubah pemikiran maladaptif dari klien dengan mengajarkan bentuk self-statement (self-talk) yang positif.

 

5. Evaluasi

Tahap evaluasi mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Evaluasi merupakan tahap akhir dari pelaksanaan terapi. Evaluasi dapat dilihat berdasarkan record dari klien sebelumnya dan kemajuan apa yang terjadi setelah klien melakukan terapi.

Ø  Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan agorafobia atau ketakutan klien terhadap tempat atau situasi ramai.

Ø  Setelah dilakukan terapi, subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan agorafobia tersebut.

 

 

2. ANOREKSIA

1. Pendekatan

Pada tahap pendekatan terapis membangun Rapport yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

  • Memulai percakapan
  • Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
  • Memperkenalkan diri
  • Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
  • Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll).

2. Menggali Informasi dari Subjek

Berdasarkan Rapport akan diketahui apa yang menjadi masalah klien, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan). Kemudian terapis berusaha untuk menggali informasi dari klien mengenai gangguan yang dialaminya melalui metode wawancara dan observasi dengan menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

1)      Eksplorasi kondisi klien

Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak:

→     Bagaimana Klien merumuskan problemnya

→     apakah ini problem satu – satunya

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya

Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan inti dari masalah yang dihadapi oleh klien. Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.  Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien, terutama alasan yang membuat klien mendatangi terapis. Terapis menanyakan mengenai apa yang menjadi penyebab atau melatarbelakangi gangguan itu, sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut, sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien, dan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut. Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Kemudian identifikasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa atau mengambil kesimpulan untuk menentukan jenis terapi yang tepat.

 

3. Memilih Terapi yang Tepat

Anoreksia adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Pencitraan diri pada penderita Anoreksia dipengaruhi oleh bias kognitif (pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi) dan memengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya. Penyakit anoreksia adalah penyakit psikologi yang menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya sendiri. Ia selalu merasa gemuk padahal menurut orang lain biasa-biasa saja. Penyebabnya bisa karena tekanan sosial, pengaruh lingkungan, keluarga, genetik, depresi dan lainnya.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan mengenai Anoreksia, terapi yang dapat digunakan untuk menangani gangguan ini, yaitu dengan terapi foto. Terapi foto bisa dilakukan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit fisik maupun mental. Penyakit pola makan seperti anoreksia secara tidak langsung mempengaruhi bentuk tubuh. Sehingga dari sisi fotografi akan terlihat sekali bentuk tubuhnya.

 

4. Pelaksanaan Terapi

Terapi dengan menggunakan teknik terapi foto dilakukan dengan klien penderita anoreksia dibiarkan berpose sesukanya dengan berjalan kesana kemari sambil difoto. Selama sesi foto, terapis membiarkan klien berpose sesukanya. Setelah itu terapis menunjukkan hasil foto itu pada klien dan memberi pengarahan tentang bentuk tubuhnya yang tidak normal dan mencoba melihat kecantikannya dari sisi fotografi.

Terapi ini lebih menunjukkan pada seseorang apa yang terlihat dari sebuah foto, dan dari situ klien bisa bercerita dan mengungkapkan keluh kesahnya menderita sebuah penyakit. Hal itu akan membantunya melepaskan beban dan stres yang dialaminya. Fotografi punya efek khusus yang akan mempengaruhi psikologi secara tidak langsung.

 

5. Evaluasi

Tahap evaluasi mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Evaluasi merupakan tahap akhir dari pelaksanaan terapi. Evaluasi dapat dilihat berdasarkan record dari klien sebelumnya dan kemajuan apa yang terjadi setelah klien melakukan terapi.

Ø  Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan gangguan anoreksia.

Ø  Setelah dilakukan terapi, subjek dapat terbebas dari gangguan anoreksia.

 

 

3. DEPRESI

1. Pendekatan

Pada tahap pendekatan terapis membangun Rapport yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

  • Memulai percakapan
  • Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
  • Memperkenalkan diri
  • Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
  • Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll).

2. Menggali Informasi dari Subjek

Berdasarkan Rapport akan diketahui apa yang menjadi masalah klien, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan). Kemudian terapis berusaha untuk menggali informasi dari klien mengenai gangguan yang dialaminya melalui metode wawancara dan observasi dengan menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

1)      Eksplorasi kondisi klien

Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak:

→     Bagaimana Klien merumuskan problemnya

→     apakah ini problem satu – satunya

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya

Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan inti dari masalah yang dihadapi oleh klien. Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.  Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien, terutama alasan yang membuat klien mendatangi terapis. Terapis menanyakan mengenai apa yang menjadi penyebab atau melatarbelakangi gangguan itu, sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut, sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien, dan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut. Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Kemudian identifikasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa atau mengambil kesimpulan untuk menentukan jenis terapi yang tepat.

 

3. Memilih Terapi yang Tepat

Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. Depresi terjadi akibat pikiran negatif yang muncul secara konstan. Pikiran-pikiran ini muncul secara otomatis. Artinya, pikiran ini muncul tanpa didasari usaha yang dilakukan secara sadar.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan mengenai Depresi, terapi yang dapat digunakan untuk menangani gangguan ini, yaitu dengan terapi kognitif. Dalam terapi tersebut, klien belajar bagaimana cara menyadari dan memperbaiki pikiran-pikiran negatif yang otomatis ini. Seiring waktu, klien akan bisa menemukan dan memperbaiki keyakinan-keyakin salah yang memicu depresinya.

 

4. Pelaksanaan Terapi

Terapi dengan menggunakan terapi kognitif dilakukan dengan berbagai tahapan. Dalam terapi ini, klien akan diajak untuk memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian seperti yang disebutkan di atas. Sekali klien bisa memecahkan masalah menjadi bagian-bagian tersebut, maka masalah yang kelihatannya begitu kuat tanpa pemecahan akan bisa ditangani.

Sepanjang mengikuti terapi, terapis akan mengajarkan dan mengenalkan kepada klien alat-alat yang digunakan dalam terapi. Kemudian, diantara sesi, klien akan diminta mengerjakan tugas tertentu. Tugas ini akan membantu klien mempelajari cara menggunakan peralatan dalam memecahkan masalah tertentu dalam kehidupan. Klien akan membuat perubahan kecil dalam hal pola pikir dan tingkah laku mereka setiap hari. Kemudian, seiring waktu, perubahan-perubahan kecil ini akan memicu perbaikan mood dan penampilan yang akan bertahan selamanya.

 

5. Evaluasi

Tahap evaluasi mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Evaluasi merupakan tahap akhir dari pelaksanaan terapi. Evaluasi dapat dilihat berdasarkan record dari klien sebelumnya dan kemajuan apa yang terjadi setelah klien melakukan terapi.

Ø  Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan depresi.

Ø  Setelah dilakukan terapi, subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan tanda-tanda depresi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s