NARSIS

Posted: February 22, 2010 in Knowledge, Psikologi

Definisi narsis adalah sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memperdulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisinya sendiri.

Sigmund Freud menguraikan dalam tulisannya bahwa narsis mengacu pada NPD (Narcissistic Personality Disorder), sebutan untuk mengenali kondisi yang mengarah pada gangguan karakter individu yang menunjukkan kesombongan, egoisme, dan kecintaan yang berlebihan pada diri sendiri. Namun, istilah tersebut dapat juga dikenakan pada kelompok sosial tertentu yang mengarah pada sikap membenarkan keburukan anggotanya.

Narsis tergolong kedalam gangguan kepribadian. Orang dengan kepribadian narsistik (narcissistic personality disorder) memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian. Mereka berharap orang lain melihat kualitas khusus mereka, bahkan saat prestasi mereka biasa saja. Mereka bersifat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang lain. Orang dengan kepribadian narsistik cenderung terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta yang ideal, atau pengakuan akan kecerdasan atau kecantikan.

Spencer A Rathus dan Jeffrey S. Nevid menyebutkan dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000) bahwa orang dengan kepribadian narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian. Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, mengatakan, ada lima penyebab kemunculan narsis, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung menjadi narsis. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor instrinsik (bawaan lahir) dan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan. Terkait dengan faktor eksternal, narsis biasanya timbul akibat adanya pengakuan yang berulang kali dari orang lain terhadap seseorang. Misalkan saja, seseorang kemudian merasa dirinya cantik karena banyak orang yang memberikan predikat tersebut kepadanya, meski pada awalnya dia tak merasa demikian.
Lebih lanjut, narsis ternyata tidak hanya bermanifestasi pada perilaku yang senang memuji dirinya sendiri, berlama- lama berdiri di depan cermin, atau kerap berfoto layaknya seorang model, tetapi juga terdapat implikasi lain dari sifat narsis ini sendiri. Di antara implikasi tersebut adalah orang narsis merasa lebih hebat dan besar dibandingkan orang lain, memiliki fantasi untuk mencapai kesuksesan dan kekuasaan yang sangat tinggi, merasa dirinya unik dan berbeda dari orang lain, selalu merasa butuh pengakuan yang lebih dari orang lain, selalu ingin diperlakukan istimewa, cenderung manipulatif dan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya, tidak dapat berempati, dan selalu arogan.

Perlu dibedakan antara narsis dengan percaya diri (PD). Percaya diri yang normal biasanya menghargai pujian yang datang kepadanya, tetapi tidak menganggap itu sebagai keharusan demi menjaga self esteem. Percaya diri tercermin dari keterbukaan terhadap kritik dan hanya mengalami kekecewaan yang sebentar jika dikritik. Meskipun tidak mendapat perlakuan istimewa, orang yang percaya diri tidak akan merasakan kekecewaan layaknya orang narsis. Kadar keprcayaan diri juga masih sehat ketika masih bisa mengerti dan empati pada perasaan orang lain. Cara terbaik untuk mencegah percaya diri tidak berkembang menjadi narsis adalah dengan mau mendengarkan kritik dari orang lain. Selalu mau mengeksplorasi kelebihan dan kekurangan pada diri juga merupakan salah satu cara agar percaya diri tidak berubah menjadi narsis. Orang yang benar-benar percaya diri tidak perlu memamerkan semua kelebihannya. Dia tahu kualitas dirinya dan tidak bergantung kepada orang lain agar merasa nyaman. Sebaliknya, orang narsis justru butuh pengakuan orang lain demi menggenjot rasa percaya dirinya. Inilah rahasia terbesar orang narsis. Jauh dalam hati mereka, tersimpan sebuah jiwa yang sangat rapuh dan mereka menutupinya dengan menekankan betapa hebatnya mereka yang terbukti dari banyaknya pujian dari orang lain.

Seseorang yang narsis memposisikan dirinya sebagai objek, sementara seseorang yang percaya diri memposisikan dirinya sebagai subjek. Seorang yang percaya diri tidak terlalu risau dengan ataupun tanpa pujian orang lain karena kelebihan fisik yang dimiliki, dirasakan sebagai anugerah Tuhan yang selalu disyukuri. Seseorang yang percaya diri lebih fokus kepada “kompetensi diri” ketimbang penampilan fisik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s