PSIKOTERAPI (Behaviourisme)

Posted: January 4, 2010 in Uncategorized
Tags:

A. Sekilas tentang Behaviourisme
Behaviourisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Aliran ini pada mulanya tumbuh subur di Amerika dengan tokohnya yang terkenal ekstrim, yakni John Broadus Watson, suatu aliran yang menitikberatkan peranan lingkungan, peranan dunia luar, sebagai faktor penting dimana seseorang dipengaruhi dan seseorang belajar. J.B. Watson menekankan pada
1. Riset
2. Teori kepribadian dan pengalamannya berdasarkan prinsip belajar
3. Perilaku sebagai suatu respon terhadap reinforcement
4. Menolak Medical Model
Selain menekankan empat hal diatas, J.B.watson juga mengemukakan istilah
TICS (perilaku berlebihan). Orang yang TISC adalah orang yang berperilaku berlebihan walaupun Ia tahu tidak baik akan tetapi kalu tidak dilakukan Ia merasa tidak enak. Kaum behavioural tidak menyebut adanya penyakit tapi mereka menyebutnya dengan perilaku berlebihan.
Di dalam pendekatan Behaviourisme terdapat dua aliran utama yaitu Pengkondisian Klasik dan Pekondisian Operan.
Pengkondisian Klasik berasal dari karya Pavlov. Inti dari pengkondisian Klasik adalah memasangkan dua stimuli. Stimulus yang pertama disebut US (Unconditioned Stimulus) atau stimulus tidak bersayarat yaitu stimulus yang menimbulkan respon yang sifatnya alami yang disebut UR (Unconditioned Respon) atau respon tidak bersyarat. Stimulus yang kedua disebut CS (Conditioned Stimulus) atau stimulus bersyarat yaitu stimulus yang menimbulkan respon khusus. Respon yang disebabkan oleh Conditioned Stimulus disebut CR (Conditioned Respon) atau respon bersyarat.
Pengkondisian Operan, berlandaskan teori belajar melibatkan pemberian ganjaran kepada individu atas pemunculan tingkah lakunya pada saat tingkah laku itu muncul. Dalam Pengkondisian Operan pemberian penguatan positif bisa memperkuat tingkah laku, sedangkan pemberian penguatan negative bisa memperlemah tingkah laku.
B Pandangan Tentang Manusia
Pendekatan Behaviouristik tidak menguraikan asumsi – asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan – kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dn ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan – kekuatan lingkungan dan faktor – faktor genetik, para behaviouris memasukkan pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah laku. Behavioutis terfokus kepada bagaimana orang – orang belajar dan kondisi – kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku mereka.

C. Terapi Tingkah Laku
Terapi tingkah laku adalah penerapan yang sistematis, prinsip – prinsip belajar pada perubahan tingkah laku kearah cara – cara yang lebih adaptif. Terapi ini ditandai oleh : (a) Kemusatan perhatian terhadap tingkah laku yang tampak dan spesifik.
(b) Kecermatan dan penguraian tujuan – tujuan treatmen
(c) Perumusan prosedur treatmen yang spesifik yang sesuai dengan masalah
(d) Penaksiran objektif atas hasil – hasil terapi.
Sekalipun memiliki banyak tehnik, terapi tingkah laku hanya memili konsep. Terapi perilaku adalah suatu pendekatan induktif yang berlandaskan eksperiment – eksperimen, dan menerapkan metode eksperimental pada proses Terapeutik. Hal yang penting dalam proses terapi ini adalah bahwa kondisi – kondisi yang menjadi penyebab timbulnya tingkah laku masalah diidentifikasi sehingga kondisi – kondisi baru bisa diciptakan guna memodifikasi tingkah laku. Urusan Terapeutik utama adalah mengisolasi tingkah laku masalah dan kemudian menciptakan cara – cara untk mengubahnya.
Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan – tujuan memperoleh tingkah laku baru, menghapusan tingkah laku yang maladaptive, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Klien diminta untuk menyatakan dengan cara – cara yang kongkrit jenis – jenis tingkah laku masalah yang dia ingin merubahnya.

D. Proses – Proses Terapeutik
Tujuan – tujuan terapeutik
Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kodisi – kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya adalah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif. Terapi tingkah laku pada hakikatnya terdiri atas proses penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif yang pemberian pengalaman – pengalaman belajar yang didalamnya respon – respon yang layak yang belum dipelajari.

Fungsi Dan Peran Terapis
Terapi tingkah laku harus memainkan peran penting dan direktif dalam pemberian treatmen, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan – pemecahan bagi masalah – masalah manusia. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan prosedur – prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah kepada tingkah laku yang baru dan adjustive.
Krasner (1967), dengan mengutip kepustakaan menunjukkan bahwa peran terapis adalah memanipulasi dan mengendalikan psikoterapi dengan pengetahuan dan kecakapannya menggunakan tehnik – tehnik belajar dalam suatu situasi perkuatan sosial. Terapis memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan tingkah laku dan nilai – nilai manusia lain. Suatu fungsi penting lainnya adalah peran terapis sebagai model. Bandura (1969) menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain.

Pengalaman klien dalam terapi
Terapi tingkah laku memberikan kepada klien peran yang ditentukan dengan baik dan menekankan pentingnya kesadaran dan pasrtisipasi klien dalam proses terapeutik. Ia diberi keterangan yang cukup tentang teknik – teknik yang digunakan. Para terapis modifikasi tingkah laku petama – tama harus memberikan keterangan rinci mengenai apa yang ada dan akan dilakukan pada setiap tahap proses treatmen.
Keterlibatan klien dalam proses terapeutik karnanya harus dianggap sebagai kenyataan bahwa klien menjadi lebih aktif. Klien harus secara aktif terlibat dalam pemilihan dan menentuan tujuan – tujuan, harus memiliki motivasi untuk berubah dan bersedia untuk bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan – kegiatan terapeutik.
Satu aspek yang penting dari peran klien dalam terapi tingkah laku adalah klien didorong untuk bereksperiment dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas pembendaharaan tingkah laku adaptifnya. Klien dibantu untuk mentransfer belajar yang diperolehnya didalam situasi terapi keadalam situasi diluar terapi. Hal penting lainnya adalah kesediaan klien dan peran aktif untuk memperluas dan menerapkan tingkah laku barunya pada situasi – situasi kehidupan nyata dan bersedia mengambil resikonya.

Hubungan Antara Terapis dan Klien
Pembentukan hubungan pribadi yang baik adalah salah satu aspek yang esensial dalam proses terapeutik. Para terapis tingkah laku tidak memainkan peran yang dingin dan impersonal yang mengkerdilkan kliennya menjadi mesin – mesin yang diprogram yang memaksakan teknik – teknik kepada klien. Pada umumnya terapis tingkah laku tidak memberikan peran utama kepada variable – variable hubungan terapis – klien.
Faktor – faktor yang cukup penting dalam membangun hubungan antar terapis dengan klien adalah kehangatan, empati, keotentikan, sikap permisif dan penerimaan. Namun hal itu saja tidak cukup bagi kemunculan perubahan tingkah laku dalam proses Terapeutik sehingga untuk memperoleh derajat keefektifan, terapis terlebih dahulu harus mengembangkan atmosfir kepercayaan dengan memperlihatkan bahwa “ (1) Ia memahami dan menerima pasien, (2) kedua orang diantara mereka bekerja sama dan (3) terapis memiliki alat yang berguna dalam membantu kearah yang dikendaki oleh pasien.

Penerapan : Teknik – Teknik dan Prosedur Terapeutik
Salah satu sumbangan terapi tingkah laku adalah pengembangan prosedur – prosedur terapeutik yang spesifik yang memiliki kemungkinan untuk diperbaiki melalui metode ilmiah. Krumboltz dan Thorensen menyatakan bahwa konseling tingkah laku adalah suatu system yang mengoreksi dirinya sendiri. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Krumboltz dan Thorensen, “teknik – teknik yang tidak berfungsi akan selalu disisihkan dan teknik – teknik baru bisa dicoba”. Teknik – teknik harus disesuaikan dengan kebutuhan – kebutuhn individual klien dan bahwa tidak pernah ada teknik yang diterapkan secara rutin pada setiap klien tanpa disertai metode – metode alternative untuk mencapai tujuan – tujuan klien. Pengevaluasian atas prosedur – prosedur terapeutik dan perbaikan prosedur – prosedur diatas landasan pembuktian yang relevan.

Teknik – teknik utama terapi tingkah laku
1. Desensitisasi sistematis
Desensitisasi sistematis adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku. Desensitisasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negative, dan Ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi sistematik juga melibatkan teknik relaxasi, klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman – pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau yang divisualisasi.
Prosedur desensitisasi adalah sebagai berikut :
1. Mengukur taraf anxiety (kecemasan) dan phobia.
Dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus – stimulus yang bisa membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu.
2. Melatih orang untuk relaxasi
Pertama klien diberi latihan relaxasi yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengenduran otot – otot yang berbeda sampai tercapai suatu keadaan santai penuh. Hal yang penting adalah bahwa klien mencapai keadaan tenang dan damai. klien diminta untuk mempraktekkan relaxsasi diluar pertemuan Terapeutik sekitar 30menit lamanya setiap hari apabila klien telah bisa belajar untuk santai dengan cepat maka prosedur desensitisasi dapat dimulai.
3. Mengukur taraf anxiety setelah relaxsasi dan tarafnya akan berkurang. Dalam keadaan dimana klien sepenuhnya santai dengan mata tertutup terapis menceritakan serangkaian situasi dan meminta klien membayangkan dirinya berada dalam situasi itu. Pertama situasi yang netral yang diungkapkan jika klien mampu tetap santai maka Ia diminta untuk membayangkan suatu situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya lebih rendah. Terapis bergerak mengungkapkan situasi secara bertingkat sampai klien menunjukkan bahwa Ia mengalami kecemasan, dan saat itulah pengungkapan situasi diakhiri. Kemudian relaxasasi dimulai lagi, dank lien kembali membayangkan dirinya berada dalam situsi yang diungkap oleh terapis. Treatmen dianggap selesai apabila klien mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan menghasilkan kecemasan.
Wolpe (1969) mencatat 3 penyebab kegagalan dalam pelaksanaan desensitisasi sistematik :
1. kesulitan – kesulitan dalam relaxsasi
2. tingkatan – tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan
3. ketidak memadai dalam membayangkan

2. Terapi Implosif dan pembanjiran
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang – ulang tanpa pemberian penguatan. Terapis memunculkan stimulus – stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien. Alas an yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang – ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi – konsekuensi yang menakutkan tidak muncul maka kecemasan tereduksi atau terapus. Prosedur – prosedur dalam penanganan klien mencangkup :
1. pencarian stimulus – stimulus apa yang memicu gejala – gejala apa.
2. menaksir bagaimana gejala – gejala berkaitan dan bagaimana gejala – gejala itu membentuk tingkah laku klien.
3. meminta klien membayangkan sejelas – jelasnya apa yang dijabarkan
4. bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan memintanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya.
5. mengulang prosedur – prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul.

3. Latihan Asertif
Latihan asertif bisa diterapkan terutama pada situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan membantu bagi orang – orang yang 1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, 2) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya, 3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, 4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon – respon positif lainnya, 5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan – perasaan dan fikiran sendiri. Latihan asertif menggunakan prosedur – prosedur permainan peran. Tingkah laku menegaskan diri pertama – tama dipraktekkan dalam situasi permainan peran dan dari sana diusahakan tingkah laku menegaskan diri itu diperaktekkan dalam situasi – situasi kehidupan nyata. Terapis memberikan bimbingan dengan memperliatkan bagaimana dan bilamana klien bisa kembali kepada tingkah laku semula, tidak tegas, serta memberikan pedoman untuk memperkuat tingkah laku menegaskan diri yang baru diperolehnya.

Teknik Aversi
Teknik-teknik pengkondisian aversi telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku simtomatik dengan stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual.
Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.
Teknik aversi adalah metode-metode yang digunakan para behavioris maupun secara luas sebagai metode-metode untuk membawa orang kepada tingkah laku yang diinginkan.
Kendali-kendali aversi bisa bekerja sewcara langsung dan tidak disadari dan bisa secara tidak langsung dan terselubung. Misalnya seorang anak yang diberi hak istimewa jika dia menyelaraskan diri dengan bertingkah laku sebagaimana yang diharapkan dan sebaliknya anak juga belajar menggunakan kendali aversi terhadap orang tuanya. Dia belajar bahwqa orang tuanya memiliki toleransi terhadap tangisan, teriakan, permintaan dan rengekan anak, belajar bahwa pada akhirnya orang tuanya itu akan memenuhi permintaannya.
Maksud prosedur aversif adalah menyajikan cara-cara menahan respon-respon maladaptif dalam suatu periode sehingga terdapat kesempatan untuk memperoleh tingkah laku alternatif yang adaptif yang akan terbukti memperkuat dirinya sendiri.
Pemberian hukuman tidak dianjurkan meskipun klien sendiri menginginkan penghapusan tingkah laku yang tidak diinginkannya melalui hukuman. Apabila tersedia alternative lain selain hukuman maka hukuman jangan digunakan. Cara yang positif yang mengarahkan kepada tingkah laku yang baru dan lebih layak harus dicari dan digunakan sebelum terpaksa menggunakan pemerkuat negatif.
Menurut Skinner, penguatan positif jauh lebih efektif dalam mengendalikan tingkah laku karena hasilnya lebih bisa diramalkan serta kemungkinan timbulnya tingkah laku yang tidak diinginkan akan lebih kecil.
Hukuman adalah sesuatu yang buruk yang meski bisa menekan tingkah laku yang diinginnkan, tidak melemahkan kecenderungan untuk merespon bahkan untuk menekan tingkah laku tertentu. Akibat yang tidak diinginkan berkaitan dengan penggunaan pengendalian aversif maupun penggunaan hukuman.

Pengkondisian Operan
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme yang aktif. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang beroperasi dilingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, mencangkup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makan, bermain, dll.
Menurut Skinner, jika suatu tingkah laku diganjar maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi. Prinsip penguatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku merupakan inti dari pengkondisian operan.

Penguatan positif
Pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau penguatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat primer maupun sekunder maupun sekunder diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat primer memuaskan kebutuhan fisiologis. Contohnya makan dan tidur.
Pemerkuat sekunder memuaskan kebutuhan psikologis dan social, memiliki nilai karena berasosiasi dengan pemerkuat primer. Contohnya senyuman, persetujuan, pujian, bintang-bintang emas, medali, uang dan hadiah.

Pembentukan Respon
Dalam pembentukan respon tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsure-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir.
Berwujud pengembangan suatu respon yang mulanya tidak terdapat dalam perbendaharaan tingkah laku individu. Penguatan sering digunakan dalam proses pembentukan respon.

Penguatan Intermiten
Untuk memaksimalkan niolai pemerkuat-pemerkuat, terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana penguatan-penguatan muncul. Jadwal penguatan merupakan hal yang penting. Penguatan terus menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan penguatan intermiten diberikan secara bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik. Tingkah laku yang dikondisikan oleh penguatan umumnya lebih tahan terhadap pengahapusan daripada tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian penguatan yang terus-menerus.
Dalam menerapkan pemberian penguatan pada pengubahan tingkah laku, tahap permulaan terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan. Jika mungkin penguatan diberikan segera setelah tingkah laku yang didingiankan muncul.
Setelah tingkah laku yang diinginkan itu meningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian penguatan bisa dikurangi. Prinsip penguatan intermiten bisa menerangkan mengapa orang-orang bisa tahan dalam bermain judi. Mereka cukup terganjar untuk bertahan meskipun mereka lebih banyak kalah daripada menang.

Penghapusan
Apabial suatu respon terus menerus dibuat tanpa penguatan, maka respon tersebut cenderung menghilang. Karena pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode. Cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik penguatan dari tingkah laku yang maladaptif itu. Penghapusan berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh penguatan intermiten dalam jangka waktu lama.
Wolpe menekankan, penghentian pemberian penguatan harus serentak dan penuh. Dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tidak diinginkan itu mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi.

Pencontohan
Individu mengamati seorang model dan diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura mengatakan, segenap belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung dan dapat pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Jadi kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.
Status dan kehormatan model amat berarti dan orang-orang pada umumnya dipengaruhi oleh tingkah laku model yang menempati status yang tinggi dan terhormat.

Token Economy
Dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam Token Economy, tingkah laku yang layak bisa diraba (tanda-tanda seperti kepingan logam) yang bisa ditukar dengan objek atau hak istimewa yang diinginkan.
Token economy merupakan salah satu contoh dari penguatan yang eksentrik yang menjadikan orang-orangmelakukan sesuatu untuk meraih “pemikat di ujung tombak”. Tujuannya adalah mengubah motivasi yang ektrinsik menjadi motivasi yang instrinsik. Diharapkan perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.

Comments
  1. aken says:

    thanks, anda sudah membantu saya dalam membuat satu assigment penting saya tentang psikologi – psikoterapi.. thanks a lot🙂

  2. Monica says:

    Tq for information =)
    It really help me to learning about the subject that Iearned =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s