Aku.. Aku.. Aku..

Posted: January 4, 2010 in Uncategorized

Ini sebuah kesalahan..
Mengapa aku bisa merasa seperti ini?
Berulang-ulang pertanyaan itu menggema dalam benak ku. Mengacak-acak isi kepala ku. Membuat ku kehilangan hampir separuh hari ku hanya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Aku, sulit bagiku untuk mengakui bahwa aku telah jatuh cinta kepada cowo menyebalkan itu. Setengah mati aku coba menyangkal. Setengah mati juga aku coba tuk membencinya. Tapi apa yang ku dapatkan? Justru perasaan cinta yang semakin kuat kepadanya. “Harus bagaimana?” hati ku bertanya.
Pengingkaran, yah.. defence itu sudah tak mampu lagi bekerja pada diri qu. Sudah tak sanggup lagi melindungi sistem kerja jiwa ku yang kini mulai mengalami sedikit gangguan. Namun aku belum gila. Dalam diri ku masih tersisa sedikit akal sehat. Yah.. mungkin sedikit akal sehat masih bisa membantuku untuk keluar dari belenggu yang selama ini mengikat erat jiwa ku. Belenggu yang memasung ku dalam ketiadaan, dalam gelap yang membutakan sebagian mata hati ku. Akal sehat, aku butuh lebih dari itu. Aku harus melawan perasaan ku. Diri ku melawan perasaan ku sendiri? Hahaha.. ini diluar batas akal sehat ku.
Telah ku coba.. berbagai cara telah ku coba. Ahh.. mungkin kegiatan coba-coba ku masih belum maksimal. Atau aku memang terlalu cepat menyerah. Tapi tidak, aku bukan orang seperti itu. Aku mengenal diri ku lebih dari ini. Aku masih punya sisa-sisa kekuatan untuk menghadapi keadaan, bahkan bila itu jauh lebih buruk dari ini. Yahh.. setidaknya aku masih punya hati nurani. Psssttttt.. kata orang.. ini kata orang ya.. hati nurani itu jujur. Jika tak ada lagi tempat untuk bertanya, maka bertanyalah pada hati nurani mu. Tapi yang jadi masalah, aku sulit untuk membedakan antara kata hati nurani, atau jawaban egois dari setan-setan yang mencoba untuk membutakan mata hati ku. Yahh.. lagi-lagi aku gagal.
Tidakkkkkk.. isi kepala ku semakin dipenuhi olehnya. Namanya, wajahnya, tawanya, dan semua kenangan tentang dirinya. Sepertinya tubuh kecil ku sudah tak sanggup lagi menahan badai besar dalam hati ku yang mendesak ingin keluar dari tempatnya. Yahh.. mungkin tempat itu terlalu sempit. Hati ku memang tidak cukup lapang untuk menyimpan sebuah perasaan cinta yang kian hari, kian tumbuh. Aku tak mungkin merawat cinta itu seorang diri. Aku butuh seseorang yang mau berbagi tempat untuk menjaganya agar tetap hidup. Namun aku menginginkan tempat yang baik. Tempat dimana cinta itu dapat tumbuh hingga akhirnya bersemi, menghasilkan bunga-bunga kebahagiaan.
Ahh.. jika saja bukan dia, mungkin aku takkan seperti ini. Terombang-ambing ditepi jurang kebimbangan. Terpuruk ditengah badai perasaan yang semakin tak menentu. Aku yang semakin rapuh. Aku yang semakin lemah dan tak berdaya. Tubuh ku tak mampu lagi melawan kuatnya perasaan ini. Ku mohon bebaskanlah aku. Bebaskan aku dari semua penderitaan ini. Aku di batas asa ku, aku dan sisa-sisa nafas yang ku miliki. Aku yang terlalu lemah untuk keluar dari tempat persembunyian ini. Aku yang terlalu lemah untuk berhadapan dengan kenyataan. Aku yang terlalu lemah untuk sepenuhnya sadar, untuk sepenuhnya mengerti akan apa yang kini ku rasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s