Psikologi Cinta

Posted: September 27, 2009 in Psikologi

Psikologi menggambarkan cinta sebagai sebuah fenomena kognitif dan sosial. Berbagai teori tentang hubungan cinta manusia berkembang dalam definisinya akan ketertarikan, ikatan, serta hubungan.
Satu pasangan saling tertarik satu sama lain karena adanya kombinasi dari faktor-faktor yang berlawanan, selain itu juga karena kecocokan dalam kepribadian, karakter, serta pandangan.
Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, Balai Pustaka).
Dalam bukunya Seni Mencintai, Erich Fromm (1983: 24-27) menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima, dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang paling penting dari memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyatakan unsur-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian dan pengenalan.
Dr. Frank S. Caprio (1985: 196-205) menyatakan bahwa cinta hanyalah suatu perasaan. Cinta dapat datang dan pergi. Inti pokoknya cinta bersifat timbal balik. Dalam cinta sejati selalu ada kesungguhan untuk membangun hubungan cinta yang ideal dalam mewujudkan kehidupan yang terbaik. Cinta itu sebenarnya praktis, cinta memperbolehkan satu sama lain memperoleh kemajuan dari kesalahan-kesalahannya.
Hampir semua orang yakin bahwa cinta itu berbeda dengan persahabatan. Cinta romantik berkembang lebih cepat daripada persahabatan. Cinta romantik lebih mudah retak daripada persahabatan, dan dapat berakibat negatif, misalnya frustasi ( Berscheid, 1985).
Dalm hubungan percintaan, perilaku sering lebih dimotivasi oleh kepedulian terhadap minat-minat pasangan daripada minat-minat diri sendiri. Sedangkan kepedulian terhadap kebutuhan-kebutuhan diri sendiri nampaknya lebih merupakan cirri ketertarikan sepintas lalu daripada hubungan percintaan yang serius ( Steck, Lvitane, & Kelley, 1982).
Seorang psikolog sosial, Zick Rubin (1970-1973) menyatakan bahwa:
– Kesukaan : lebih didasarkan pada afeksi dan respek.
– Kecintaan : bersandar pada keintiman, kelekatan, dan peduli terhadap kesejahteraan pihak lain.
Hingga tingkatan tertentu, Robert J. Stenberg (1995) mengatakan bahwa “cinta adalah cerita, para kekasih adalah penulisnya, dan jenis cerita yang mereka buat merefleksikan kepribadian dan perasaan mereka akan hubungan tersebut”. Menurut teori ”cinta triangular” Stenberrg (1986; Stenberg & Barnes, 1985; Stenberg & Grajek, 1984), ketiga elemen cinta tersebut adalah keintiman, hasrat dan komitmen. Keintiman adalah elemen emosi, yang didalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust), dan keinginan untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu. Hasrat adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual. Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. Tingkatan tiap elemen tersebut mempresentasikan penentuan jenis cinta apa yang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s