Menemukan Makna dibalik Sebuah Penderitaan

Posted: September 19, 2009 in Psikologi

Penderitaan merupakan salah satu resiko dalam kehidupan yang telah digariskan oleh Yang Mahakuasa, di samping kesenangan atau kebahagiaan yang diberikan kepada umat-Nya. Namun, semua itu diberikan bukan tanpa rencana. Tuhan menciptakan keduanya, terutama penderitaan atau kesedihan, dengan maksud agar manusia dalam keadaan bahagia atau sedih, senang atau menderita, selalu ingat kepada-Nya dan tidak memalingkan diri dari-Nya.
Kita tidak boleh lupa bahwa kita mungkin menemukan arti dalam hidup pada saat dihadapkan dengan keadaan penuh keputusasaan. Edith Weisskopf-Joelson, seorang dosen Psikologi di University of Georgia menyatakan bahwa “filsafat kesehatan mental kita saat ini menekankan gagasan orang itu harus bahagia. Bahwa ketidakbahagiaan tersebut merupakan gejala dari ketidakmampuan menyesuaikan diri. Sistem nilai semacam ini mungkin bertanggung jawab bagi kenyataan, bahwa beban ketidakbahagiaan yang tidak terelakkan diperburuk oleh ketidakbahagiaan karena merasa tidak bahagia.” Banyak orang yang menderita diberikan kesempatan yang sangat kecil untuk merasa bangga dengan penderitaannya, sehingga ia bukan hanya tidak bahagia, tetapi juga merasa malu dengan ketidakbahagiaannya.
Derita berarti menanggung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan demikian, penderitaan merupakan lawan kata dari kesenangan ataupun kegembiraan.
Pada kenyataannya hidup memang tidak hanya berisi penderitaan dan kesedihan, hidup juga penuh madu dan kenikmatan. Namun dalam hidup ini berlaku hukum “ketidakkekalan”. Tiap sumber kenikmatan yang kita cengkram, suatu waktu ia bisa berbalik menjadi sumber penderitaan.
Berulang-ulang kita harus menghadapi kegagalan, penolakan, perpisahan, kehilangan, kesakitan, kesepian, dan kekecewaan. Maka ketika penderitaan hadir, kita harus berusaha untuk “melepaskan”. Lepaskan semua hal yang terjadi dalam hidup. Terimalah kehidupan persis seperti apa adanya. Menerima kehidupan seperti apa adanya bukan berarti kita pasrah dan berkata “nasib saya akan selalu seperti ini” lalu menyerah. Bukan itu arti melepaskan. Melepaskan adalah menerima kenyataan bahwa “inilah apa adanya”, dan biarkan semua sebagaimana adanya. Hanya dengan menerima kehidupan kita persis seperti apa adanya maka kita akan dapat menemukan arti dibalik penderitaan.
Temukanlah arti dibalik penderitaan, lalu berbanggalah dengan penderitaanmu itu.
refrensi tulisan ini:
Ratnaningsih, Rahayu. 2002. Meniti Pematang Kehidupan. Jakarta: Gramedia
Sonia, Ricotti. 2009. 11 Langkah untuk Sejahtera Lahir Batin. Jakarta: Gramedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s