1. Agora Phobia

A. Pendekatan

1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Melakukan rapport

> Memulai percakapan

> Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

> Memperkenalkan diri: basa- basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

> Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)

5. Post condition : Menggali informasi subjek

6. Actor who gets benefit :

#Klien

#Therapist

B. Menggali Informasi Subjek

1. Case name : Menggali informasi subjek

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Wawancara dan observasi → menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

# Eksplorasi kondisi klien → Apakah ada problem atau tidak:

> bagaimana Klien merumuskan problemnya

> apakah ini problem satu – satunya

# Identifikasi masalah dan penyebabnya:

> Latar belakang terjadinya masalah

^ sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut

^ sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien

^ apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut

5. Post condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

C. Memilih Terapi yang Tepat

1. Case name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Menggali informasi subjek

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Mengumpulkan informasi mengenai agorafobia:

> ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan atau membuat malu seseorang untuk kabur dari situ bila terjadi simtom-simtom panik atau suatu serangan panik yang parah.

> takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penuh sesak; berjalan di jalan yang ramai; naik bus, kereta api atau mobil; makan di rumah makan; atau keluar dari rumah.

> Memilih teknik CBT (cognitive-behavioral therapy): terapi ini berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan, dan sikap yang mendasarinya.

# Terapi yang digunakan oleh terapis adalah CBT (cognitive-behavioral therapy) dengan teknik in-vivo.

5. Post condition : Pelaksanaan terapi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

D. Pelaksanaan Terapi

1. Case name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Klien membentuk hirarki situasi yang menimbulkan kecemasan pada subyek dari situasi yang menghasilkan kecemasan paling kecil sampai situasi yang paling menakutkan (menuliskannya dalam daftar situasi yang dapat menimbulkan rasa cemas )

# Klien didorong untuk mengulang dan secara sistematis mengungkapkan situasi-situasi yang dapat menimbulkan rasa takut. Merasakan situasi itu sampai kecemasannya dapat menurun: misalnya pasien diajak berbelanja dengan ditemani terapis, kemudian sampai ke tahap dimana klien berani berbelanja seorang diri.

# Selama sesi aktual, terapis mengubah pemikiran maladaptif dari klien dengan mengajarkan bentuk self-statement (self-talk) yang positif.

5. Post condition : Evaluasi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

E. Evaluasi

1. Case name : Evaluasi

2. Pre condition : Pelaksanaan terapi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan agorafobia atau ketakutan klien terhadap tempat atau situasi ramai.

# Setelah dilakukan terapi: subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan agorafobia tersebut.

5. Post condition : Control Post Therapy

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

F. Control Post Therapy

1. Case name : Control post therapy

2. Pre condition : Evaluasi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Subjek mampu mengembangkan bentuk self-statement (self-talk) yang positif.

# Klien mampu nmengembangkan perilaku yang dapat membantu mereka untuk belajar # bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka.

5. Post condition : None

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

2. Anoreksia

A. Pendekatan

1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Melakukan rapport

> Memulai percakapan

> Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

> Memperkenalkan diri: basa- basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

> Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)

5. Post condition : Menggali informasi subjek

6. Actor who gets benefit :

#Klien

#Therapist

B. Menggali Informasi Subjek

1. Case name : Menggali informasi subjek

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Wawancara dan observasi → menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

# Eksplorasi kondisi klien → Apakah ada problem atau tidak:

> bagaimana Klien merumuskan problemnya

> apakah ini problem satu – satunya

# Identifikasi masalah dan penyebabnya:

> Latar belakang terjadinya masalah

^ sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut

^ sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien

^ apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut

5. Post condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

C. Memilih Terapi yang Tepat

1. Case name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Menggali informasi subjek

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Mengumpulkan informasi mengenai anoreksia:

> gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang.

> merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya sendiri, ia selalu merasa gemuk padahal menurut orang lain biasa-biasa saja.

> Ketakutan yang kuat mengalamin kenaikan berat badan atau menjadi gemuk, walaupun sesungguhnya memiliki berat badan kurang dari berat badan normal.

# Memilih teknik Terapi foto: dilakukan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit fisik maupun mental. Penyakit pola makan seperti anoreksia secara tidak langsung mempengaruhi bentuk tubuh, sehingga dari sisi fotografi akan terlihat sekali bentuk tubuhnya.

# Terapi yang digunakan oleh terapis adalah terapi foto

5. Post condition : Pelaksanaan terapi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

D. Pelaksanaan Terapi

1. Case name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Penderita anoreksia (klien) dibiarkan berpose sesukanya dengan berjalan kesana kemari sambil difoto.

# Setelah itu terapis menunjukkan hasil foto itu pada klien dan memberi pengarahan tentang bentuk tubuhnya yang tidak normal dan mencoba melihat kecantikannya dari sisi fotografi.

# Klien bisa bercerita dan mengungkapkan keluh kesahnya menderita sebuah penyakit, hal itu akan membantunya melepaskan beban dan stres yang dialaminya.

# Memulihkan keadaan nutrisi klien.

5. Post condition : Evaluasi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

E. Evaluasi

1. Case name : Evaluasi

2. Pre condition : Pelaksanaan terapi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan kelasahan klien dalam mempersepsi body image.

# Setelah dilakukan terapi: subjek dapat terbebas dari gangguan anoreksia.

5.  Post condition : Control Post Therapy

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

F. Control Post Therapy

1. Case name : Control post therapy

2. Pre condition : Evaluasi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Menimbang berat badan badan

# Konsultasi gizi apakah kebutuhan nutrisi klien sudah terpenuhi, setelah terapi yang sudah diberikan.

5. Post condition : None

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

 

3. Depresi

A. Pendekatan

1. Case name : Pendekatan

2. Pre condition : None

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Melakukan rapport

> Memulai percakapan

> Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”

> Memperkenalkan diri: basa- basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.

> Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)

5. Post condition : Menggali informasi subjek

6. Actor who gets benefit :

#Klien

#Therapist

B. Menggali Informasi Subjek

1. Case name : Menggali informasi subjek

2. Pre condition : Pendekatan

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Wawancara dan observasi → menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

# Eksplorasi kondisi klien → Apakah ada problem atau tidak:

> bagaimana Klien merumuskan problemnya

> apakah ini problem satu – satunya

# Identifikasi masalah dan penyebabnya:

> Latar belakang terjadinya masalah

^ sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut

^ sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien

^ apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut

5. Post condition : Memilih terapi yang tepat

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

C. Memilih Terapi yang Tepat

1. Case name : Memilih terapi yang tepat

2. Pre condition : Menggali informasi subjek

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Mengumpulkan informasi mengenai depresi:

> perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur.

> pikiran negatif yang muncul secara konstan, pikiran-pikiran ini muncul secara otomatis. Artinya, pikiran ini muncul tanpa didasari usaha yang dilakukan secara sadar.

# Memilih teknik terapi Kognitif: klien belajar bagaimana cara menyadari dan memperbaiki pikiran-pikiran negatif yang otomatis ini. Seiring waktu, klien akan bisa menemukan dan memperbaiki keyakinan-keyakinan salah yang memicu depresinya.

# Terapi yang digunakan oleh terapis adalah terapi Kognitif.

5. Post condition : Pelaksanaan terapi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

D. Pelaksanaan Terapi

1. Case name : Pelaksanaan terapi

2. Pre condition : Memilih terapi yang tepat

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Klien diajak untuk memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian.

# Terapis akan mengajarkan dan mengenalkan kepada klien alat-alat yang digunakan dalam terapi. Kemudian, diantara sesi, klien akan diminta mengerjakan tugas tertentu. Tugas ini akan membantu klien mempelajari cara menggunakan peralatan dalam memecahkan masalah tertentu dalam kehidupan.

# Klien akan membuat perubahan kecil dalam hal pola pikir dan tingkah laku klien setiap hari.

# Kemudian, seiring waktu, perubahan-perubahan kecil ini akan memicu perbaikan mood dan penampilan yang akan bertahan selamanya.

5. Post condition : Evaluasi

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

E. Evaluasi

1. Case name : Evaluasi

2. Pre condition : Pelaksanaan terapi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Harapan awal: terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan depresi yang dideritanya.

# Setelah dilakukan terapi: subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan gejala depresi.

5. Post condition : Control Post Therapy

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

F. Control Post Therapy

1. Case name : Control post therapy

2. Pre condition : Evaluasi

3. Actor who initiate : Therapist

4. Steps:

# Subjek mampu mengembangkan kemampuan memecahkan masalah (problem solving) sendiri.

# Perubahan dalam pola pikir dan tingkah laku klien.

5. Post condition : None

6. Actor who gets benefit :

# Klien

# Therapist

 

1. AGORAFOBIA

1. Pendekatan

Pada tahap pendekatan terapis membangun Rapport yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

  • Memulai percakapan
  • Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
  • Memperkenalkan diri
  • Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
  • Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll).

2. Menggali Informasi dari Subjek

Berdasarkan Rapport akan diketahui apa yang menjadi masalah klien, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan). Kemudian terapis berusaha untuk menggali informasi dari klien mengenai gangguan yang dialaminya melalui metode wawancara dan observasi dengan menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

1)      Eksplorasi kondisi klien

Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak:

→     Bagaimana Klien merumuskan problemnya

→     apakah ini problem satu – satunya

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya

Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan inti dari masalah yang dihadapi oleh klien. Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.  Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien, terutama alasan yang membuat klien mendatangi terapis. Terapis menanyakan mengenai apa yang menjadi penyebab atau melatarbelakangi gangguan itu, sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut, sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien, dan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut. Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Kemudian identifikasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa atau mengambil kesimpulan untuk menentukan jenis terapi yang tepat.

 

3. Memilih Terapi yang Tepat

Agorafobia melibatkan ketakutan terhadap tempat-tempat atau situasi-situasi yang memberi kesulitan atau membuat malu seseorang untuk kabur dari situ bila terjadi simtom-simtom panik atau suatu serangan panik yang parah. Orang-orang agorafobia takut untuk pergi berbelanja di toko-toko yang penuh sesak; berjalan di jalan yang ramai; naik bus, kereta api atau mobil; makan di rumah makan; atau keluar dari rumah.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan mengenai agorafobia, terdapat beberapa terapi yang dapat digunakan untuk menangani gangguan ini, yaitu dengan teknik CBT (cognitive-behavioral therapy). Terapi ini berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan, dan sikap yang mendasarinya.

Dari beberapa terapi yang memungkinkan akan membantu menyelesaikan masalah klien, terapis akan memilih terapi yang diharapkan tepat untuk penanganan gangguan ini. Dalam kasus ini, terapi yang digunakan oleh terapis adalah teknik in-vivo.

 

4. Pelaksanaan Terapi

Terapi dengan menggunakan teknik in-vivo dilakukan dengan berbagai tahapan. Pertama, pemaparan sesi in-vivo (aktual) disusun dalam suatu seri pengalaman yang secara bertahap semakin menakutkan. Misalnya pasien diajak berbelanja dengan ditemani terapis, kemudian sampai ke tahap dimana klien berani berbelanja seorang diri. Selama sesi aktual, terapis mengubah pemikiran maladaptif dari klien dengan mengajarkan bentuk self-statement (self-talk) yang positif.

 

5. Evaluasi

Tahap evaluasi mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Evaluasi merupakan tahap akhir dari pelaksanaan terapi. Evaluasi dapat dilihat berdasarkan record dari klien sebelumnya dan kemajuan apa yang terjadi setelah klien melakukan terapi.

Ø  Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan agorafobia atau ketakutan klien terhadap tempat atau situasi ramai.

Ø  Setelah dilakukan terapi, subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan agorafobia tersebut.

 

 

2. ANOREKSIA

1. Pendekatan

Pada tahap pendekatan terapis membangun Rapport yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

  • Memulai percakapan
  • Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
  • Memperkenalkan diri
  • Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
  • Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll).

2. Menggali Informasi dari Subjek

Berdasarkan Rapport akan diketahui apa yang menjadi masalah klien, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan). Kemudian terapis berusaha untuk menggali informasi dari klien mengenai gangguan yang dialaminya melalui metode wawancara dan observasi dengan menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

1)      Eksplorasi kondisi klien

Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak:

→     Bagaimana Klien merumuskan problemnya

→     apakah ini problem satu – satunya

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya

Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan inti dari masalah yang dihadapi oleh klien. Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.  Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien, terutama alasan yang membuat klien mendatangi terapis. Terapis menanyakan mengenai apa yang menjadi penyebab atau melatarbelakangi gangguan itu, sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut, sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien, dan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut. Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Kemudian identifikasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa atau mengambil kesimpulan untuk menentukan jenis terapi yang tepat.

 

3. Memilih Terapi yang Tepat

Anoreksia adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Pencitraan diri pada penderita Anoreksia dipengaruhi oleh bias kognitif (pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi) dan memengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya. Penyakit anoreksia adalah penyakit psikologi yang menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya sendiri. Ia selalu merasa gemuk padahal menurut orang lain biasa-biasa saja. Penyebabnya bisa karena tekanan sosial, pengaruh lingkungan, keluarga, genetik, depresi dan lainnya.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan mengenai Anoreksia, terapi yang dapat digunakan untuk menangani gangguan ini, yaitu dengan terapi foto. Terapi foto bisa dilakukan untuk menyembuhkan seseorang dari penyakit fisik maupun mental. Penyakit pola makan seperti anoreksia secara tidak langsung mempengaruhi bentuk tubuh. Sehingga dari sisi fotografi akan terlihat sekali bentuk tubuhnya.

 

4. Pelaksanaan Terapi

Terapi dengan menggunakan teknik terapi foto dilakukan dengan klien penderita anoreksia dibiarkan berpose sesukanya dengan berjalan kesana kemari sambil difoto. Selama sesi foto, terapis membiarkan klien berpose sesukanya. Setelah itu terapis menunjukkan hasil foto itu pada klien dan memberi pengarahan tentang bentuk tubuhnya yang tidak normal dan mencoba melihat kecantikannya dari sisi fotografi.

Terapi ini lebih menunjukkan pada seseorang apa yang terlihat dari sebuah foto, dan dari situ klien bisa bercerita dan mengungkapkan keluh kesahnya menderita sebuah penyakit. Hal itu akan membantunya melepaskan beban dan stres yang dialaminya. Fotografi punya efek khusus yang akan mempengaruhi psikologi secara tidak langsung.

 

5. Evaluasi

Tahap evaluasi mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Evaluasi merupakan tahap akhir dari pelaksanaan terapi. Evaluasi dapat dilihat berdasarkan record dari klien sebelumnya dan kemajuan apa yang terjadi setelah klien melakukan terapi.

Ø  Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan gangguan anoreksia.

Ø  Setelah dilakukan terapi, subjek dapat terbebas dari gangguan anoreksia.

 

 

3. DEPRESI

1. Pendekatan

Pada tahap pendekatan terapis membangun Rapport yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan klien agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.

  • Memulai percakapan
  • Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
  • Memperkenalkan diri
  • Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
  • Mempersiapkan aturan main (peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan) serta mengemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan-aturan yang akan dilakukan terapi dan diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll).

2. Menggali Informasi dari Subjek

Berdasarkan Rapport akan diketahui apa yang menjadi masalah klien, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan). Kemudian terapis berusaha untuk menggali informasi dari klien mengenai gangguan yang dialaminya melalui metode wawancara dan observasi dengan menggunakan alat perekam, dapat berupa voice recorder ataupun video camera recorder.

1)      Eksplorasi kondisi klien

Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak:

→     Bagaimana Klien merumuskan problemnya

→     apakah ini problem satu – satunya

2)      Identifikasi masalah dan penyebabnya

Identifikasi masalah merupakan upaya menentukan inti dari masalah yang dihadapi oleh klien. Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.  Tanyakan semua berdasarkan kacamata klien, terutama alasan yang membuat klien mendatangi terapis. Terapis menanyakan mengenai apa yang menjadi penyebab atau melatarbelakangi gangguan itu, sejak kapan klien merasa dia telah mengalami gangguan tersebut, sampai sejauh mana gangguan itu dirasakan oleh klien, dan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami situasi tersebut. Dalam identifikasi masalah kita berusaha memahami apa yang dialami klien dan mencari kesulitan masalah yang dihadapi klien. Kemudian identifikasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosa atau mengambil kesimpulan untuk menentukan jenis terapi yang tepat.

 

3. Memilih Terapi yang Tepat

Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. Depresi terjadi akibat pikiran negatif yang muncul secara konstan. Pikiran-pikiran ini muncul secara otomatis. Artinya, pikiran ini muncul tanpa didasari usaha yang dilakukan secara sadar.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan mengenai Depresi, terapi yang dapat digunakan untuk menangani gangguan ini, yaitu dengan terapi kognitif. Dalam terapi tersebut, klien belajar bagaimana cara menyadari dan memperbaiki pikiran-pikiran negatif yang otomatis ini. Seiring waktu, klien akan bisa menemukan dan memperbaiki keyakinan-keyakin salah yang memicu depresinya.

 

4. Pelaksanaan Terapi

Terapi dengan menggunakan terapi kognitif dilakukan dengan berbagai tahapan. Dalam terapi ini, klien akan diajak untuk memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian seperti yang disebutkan di atas. Sekali klien bisa memecahkan masalah menjadi bagian-bagian tersebut, maka masalah yang kelihatannya begitu kuat tanpa pemecahan akan bisa ditangani.

Sepanjang mengikuti terapi, terapis akan mengajarkan dan mengenalkan kepada klien alat-alat yang digunakan dalam terapi. Kemudian, diantara sesi, klien akan diminta mengerjakan tugas tertentu. Tugas ini akan membantu klien mempelajari cara menggunakan peralatan dalam memecahkan masalah tertentu dalam kehidupan. Klien akan membuat perubahan kecil dalam hal pola pikir dan tingkah laku mereka setiap hari. Kemudian, seiring waktu, perubahan-perubahan kecil ini akan memicu perbaikan mood dan penampilan yang akan bertahan selamanya.

 

5. Evaluasi

Tahap evaluasi mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku klien. Evaluasi merupakan tahap akhir dari pelaksanaan terapi. Evaluasi dapat dilihat berdasarkan record dari klien sebelumnya dan kemajuan apa yang terjadi setelah klien melakukan terapi.

Ø  Harapan awal : terapi berhasil atau klien dapat menghilangkan depresi.

Ø  Setelah dilakukan terapi, subjek dapat mengurangi perilaku-perilaku yang menunjukkan tanda-tanda depresi.

 

Psikoterapi

Posted: March 18, 2011 in Knowledge, Psikologi

Psychotherapy (Wohlberg) is the treatment by psychological means of the problems of an emotional nature in which a trained person deliberately establish a proffesional relationship with the patient with the object of :

v  removing, modifying or retarding symptom

v  mediating disturbed patterns of behavior

v  promoting positive personality growth and development

 

Psikoterapi menurut Corsini adalah Proses interaksi formal 2 pihak (2 orang/lebih), bertujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distres) pada salah 1 pihak karena tidak berfungsinya / ketidakmampuan pada fungsi kognitif, afeksi atau perilaku, dengan terapis berusaha mengembangkan memelihara atau mengubahnya dengan menggunakan metode2 sesuai pengetahuan & skill, serta bersifat profesional & legal.

Tahap-tahap psikoterapi :

1.      Wawancara awal

  • dikemukakan apa yang akan terjadi selama terapi berlangsung, aturan2, yang akan dilakukan terapi & diharapkan dari klien, kontrak terapeutik (tujuan, harapan, kapan, dimana, lama, keterbatasan, dll)
  • akan diketahui apa yang menjadi masalah klien – rapport, klien menceritakan masalah (ada komitmen untuk mengkomunikasikan), terapis & klien bekerjasama

2.      Proses terapi

  • mengkaji pengalaman klien, hubungan terapis & klien, pengenalan – penjelasan – pengartian perasaan & pengalaman klien

3.      Pengertian ke tindakan

  • terapis bersama klien mengkaji & mendiskusikan apa yang telah dipelajari klien selama terapi berlangsung, penngetahuan klien akan aplikasinya nanti di perilaku & kehidupan sehari-hari

4.      Mengakhiri terapi

  • terapi dapat berakhir jika tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan lagi, atau terapis tidak dapat lagi menolong kliennya (merujuk ke ahli lain)
  • beberapa pertemuan sebelum terapi berakhir klien diberitahu  klien disiapkan untuk menjadi lebih mandiri menghadapi lingkungannya nanti

 

Psikologi berasal dari kata Yunani ‘psyche’ yang berarti “jiwa” dan “logos” yang berati ilmu atau ilmu pengetahuan. Secara definitif, psikologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan proses mental. Artinya, psikologi adalah suatu ilmu yang berusaha untuk menjelaskan tentang gejala perilaku manusia. Peranan psikologi dalam mempelajari atau memahami perilaku manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Kemampuan menganalisa hubungan perilaku manusia yang tak lepas dari teknologi, khususnya teknologi informasi sehingga memungkinkan pendekatan interdisipliner dengan ilmu lain khususnya teknologi informasi (antara lain bidang human computer interaction dan computer based learning).
Saat ini, perkembangan teknologi telah merambah berbagai bidang. Teknologi tidak lagi sekedar untuk teknologi, tapi teknologi yang telah mencakup berbagai ranah kehidupan manusia, teknologi yang telah mempengaruhi kehidupan manusia, teknologi yang telah menjadi bagian integral kehidupan manusia. Kehadiran teknologi internet yang semakin canggih telah merubah gaya hidup manusia dan tuntutan pada kompetensi manusia.
Komputer sebagai media komunikasi memiliki kegunaan seperti : email, open virtual discussion groups (newsgroup), forums, chat room, voice exchange (telepon), dan face to face video communications (video conferencing), telah menjadi kebiasaan dan merupakan sesuatu yang setiap hari digunakan untuk bisnis, pendidikan, dan hiburan.
Psikologi mulai dikenal pada akhir 1980-an. Komputer memiliki banyak kegunaan salah satunya adalah email. Aplikasi psikologi pertama yang menggunakan internet (world wide web) dimulai dari konseling melalui email. Pesatnya perkembangan komputer dan teknologi informasi selama dekade terakhir telah berdampak pada psikologi, yang telah bergerak dalam konteks ini dari aplikasi komputer lokal kepada aplikasi jaringan yang memanfaatkan Internet. Secara khusus, 10 jenis aplikasi Intemet psikologis antara lain:

1. information resources on psychological concepts and issues;
2. self-help guides;
3. psychological testing and assessment;
4. help in deciding to go into therapy;
5. information about specific psychological services;
6. single-session psychological advice through e-mail or e-bulletin boards;
7. ongoing personal counseling and therapy through e-mail;
8. real-time counseling through chat, web telephony, and videoconferencing;
9. synchronous and asynchronous support groups, discussion groups, and group counseling;
10. psychological and social research.

Mind Mapping

Posted: December 26, 2010 in Knowledge, Psikologi

1. Pengertian Mind Mapping

DePorter dan Hernacki (2008) mengungkapkan bahwa peta pikiran menggunakan pengingat-ingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan. Peta pikiran ini dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Sejalan dengan hal tersebut, Wycoff berpendapat bahwa pemetaan-pikiran atau peta pikiran adalah alat pembuka pikiran yang ajaib. Lebih lanjut Buzan (2008) berpendapat bahwa Mind Mapping adalah cara mudah menggali informasi dari dalam dan dari luar otak. Dalam peta pikiran, sistem bekerja otak diatur secara alami. Otomatis kerjanya pun sesuai dengan kealamian cara berpikir manusia. Peta pikiran membuat otak manusia ter-eksplor dengan baik, dan bekerja sesuai fungsinya. Seperti kita ketahui, otak manusia terdiri dari otak kanan dan otak kiri. Dalam peta pikiran, kedua sistem otak diaktifkan sesuai porsinya masing-masing. Kemampuan otak akan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya (Buzan, 2008). Dengan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung, akan merangsang secara visual. Sehingga infomasi dari mind mapping mudah untuk diingat.

Tony Buzan, seorang berkebangsaan London telah menciptakan teori Mind Mapping. Tony Buzan adalah seorang penulis buku yang bertema human brain, kreatifitas dan pembelajaran dalam otak manusia dalam berfikir. Buzan mempelajari bahwa sebenarnya manusia dilahirkan dengan jutaan kali lebih canggih dari komputer.

Secara individual kita dapat menganalisis ide-ide, mencatat pelajaran atau merencanakan penelitian baru sehingga dapat mengidentifikasi secara jelas dan kreatif apa yang telah dipelajari dan apa yang telah direncanakan. Strategi Mind Mapping juga dapat menghilangkan kebosanan dalam mencatat cara tradisional, sehingga dalam hal ini otak akan lebih akan cepat mencerna serta mengingat catatan yang telah dibuat. Menurut Buzan, otak bekerja dengan gambar dan asosiasi, dan cara mencatat Mind Mapping juga mengandalkan gambar dan asosiasi tersebut.

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.

Dalam prinsipnya Mind Mapping sangat sederhana, cukup menuliskan dengan mengikuti kemana otak kita berfikir, apa yang terlintas, apa yang teringat dalam bentuk coretan yang berkait-kaitan. Coretan berkaitan (radiant thinking) dimulai dari tengah sebagai pusat, kemudian mengembangkan kearah tepi. Metode Mind Mapping ini juga dapat membuat otak lebih fresh karena banyak masalah yang terlintas di kepala, atau ide serta gagasan yang sulit untuk direkam yang membebani otak bawah sadar. Dengan metode ini akan menjadi alat untuk menuangkan semua gagasan dan pikiran. Hal ini disebabkan karena konsep kerja Mind Mapping sama dengan cara otak kita bekerja.

Hasil dari mind mapping akan menggambarkan pola pikir seseorang secara teratur, penuh dengan warna, garis lengkung, simbol, kata dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak. Mind Mapping bukan hal yang sukar dilakukan dan berharga mahal, hanya membutuhkan kemauan untuk mengerti suatu materi. Karena menurut Tony Buzan (2008), orang yang memperkenalkan Mind Mapping untuk membuatnya hanya diperlukan bahan-bahan berikut:

a. Kertas kosong tak bergaris

b. Pena dan pensil warna

c. Otak

d. Imaginasi

Sedangkan untuk mind mapping ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yaitu konsep utama, isu utama, sub isu (dari setiap isu utama), sub-sub-isu (dari setiap isu), dan proposisi. Sehingga langkah-langkah dasar mind mapping menurut Tony Buzan 2008 adalah:

a. Mulailah dari tengah kertas kosong

b. Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama

c. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat. Buatlah ranting-ranting yang berhubungan ke cabang dan seterusnya

d. Buatlah garis hubung yang melengkung

e. Gunakan satu kunci untuk setiap garis

f. Gunakan gambar

Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.

 

2. Manfaat Mind Mapping

Sekarang ini, telah banyak yang merasakan dan mengakui bahwa mind mapping sangat bermanfaat dalam kegiatan manusia, karena menghasilkan catatan yang langsung menggambarkan cabang-cabang pikiran pencatat, sehingga pencatat mudah memahami isi catatanya walaupun hanya melihat sepintas dalam bukunya Buku Pintar Mind Map Toni Buzan menuliskan beberapa nama para ahli yang sukses karena pekerjaannya diawali dengan mind mapping. Mind Mapping dinilai dapat pemecahan masalah dengan efektif. Menurut Tony Buzan 2008 mind mapping dapat membantu kita untuk banyak hal seperti:

a. Merencanakan

b. Berkomunikasi

c. Menjadi lebih kreatif

d. Menyelesaikan masalah

e. Memusatkan perhatian

f. Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran

g. Mengingat dengan baik

h. Belajar lebih cepat dan efisien

i. Melatih “gambar keseluruhan”

 

 

Buzan. Tony. 2008. Mind Map: Untuk Meningkatkan Kreativitas. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Jensen. Eric dan Karen Makowitz. 2002. Otak Sejuta Gygabite: Buku Pintar Membangun Ingatan Super. Kaifa : Bandung.

Porter. De Bobbi dan Hernacki. 2008. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa : Bandung.

 

Untuk mu..

Posted: June 29, 2010 in Uncategorized

Terimakasih telah memberitahu dimana seharusnya aq berada.. Sekarang qt berada di dua bintang berbeda.. aq dengan bintang qu.. qm dengan bintang mu..

disini aq selalu berharap, bintang mu akan bersinar jauh lebih terang.. sehingga aq dapat selalu tersenyum saat menatapmu..

Terimakasih telah memberi satu kenangan dalam hidup qu.. Andai aq pergi dari dunia ini, qm tw apa yang akan qu katakan kepada malaikat.. aq gak ingin mereka menghapus semua ingatan qu tentang dirimu.. Aq ingin selalu mengingat mu hari ini, esok, dan selamanya.. gak peduli waktu berlalu, qm akan tetap di hati qu..
Aq gak pernah menyesal bisa mengenal mu.. aq akan selalu bahagia ketika mengingat mu..

Terimakasih telah mengembalikan kenangan-kenangan yang hilang..

Sistem Manusia-Mesin adalah kombinasi antara satu atau beberapa manusia dengan satu atau beberapa mesin, yang saling berinteraksi, untuk menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan masukan-masukan yang diperoleh. Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia, baik secara fisik maupun mental psikologis dan interaksinya dalam sistem manusia-mesin yang integral. Maka, secara sistematis pendekatan ergonomi kemudian akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan tercipta produk, sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia. Pada gilirannya rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat.
Konsep sistem Manusia-Mesin menyiratkan bahwa sebagian tugas sebaiknya dilaksanakan oleh manusia dan lainnya dilakukan oleh mesin. Jadi sistem Manusia-Mesin adalah sistem dimana kedua komponen harus bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan. Masing-masing komponen (komponen manusia saja, atau komponen mesin saja) tidak berarti tanpa adanya komponen yang lain sebagai pelengkapnya.
Di dalam sistem kerja yang produktif manusia merupakan komponen yang spesifik, yaitu memiliki kemampuan yang ideal. Sebaik-baik kemampuan manusia untuk beberapa fungsi tidak maksimal tanpa dilengkapi komponen penunjang, seperti mesin. Dengan kata lain, manusia memiliki hampir semua jangkauan operasional dalam suatu system kerja, termasuk kemampuan yang tidak dimiliki oleh mesin, yaitu fungsi merespon kesalahan atau kegagalan. Kelebihan lainnya yang dimiliki manusia sebagai komponen dalam system kerja adalah kemampuan memprediksi, mengenali kejadian yang tak terduga, mengasimilasi informasi menjadi strategi, mengadaptasi, mengobservasi, evaluasi, membuat skala prioritas ketika muncul suatu masalah.
Kelemahan manusia dibandingkan dengan komponen mesin adalah ketidakmampuannya menyimpan dan memproses data kuantitatif dalam jumlah besar dengan cepat, melakukan aktivitas yang sama secara berulang-ulang dalam kurun waktu yang lama, karena manusia memiliki rasa bosan dan tidak konsisten dan karakteristik psikologis, seperti stress, moody, dan sejenisnya.
Sebagai contoh interaksi manusia dengan mesin adalah sistem informasi, karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.
Aplikasi Sistem Mesin-Manusia pada Sistem Informasi
Telah kita ketahui bahwa informasi merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, dan informasi dapat diperoleh dengan berbagai cara mulai dari cara yang konvensional hingga menggunakan peralatan-peralatan yang boleh dikatakan canggih. Untuk mempermudah memperoleh sebuah informasi yang cepat dan tepat (up to date), maka diperlukan pengelolaan sebuah sistem yang dapat memberikan layanan informasi secara terpadu, dan biasanya dinamakan sistem informasi.
Sistem informasi dapat dipergunakan untuk berbagai kepentingan, antara lain, sebagai media promosi perusahaan, propaganda organisasi, ataupun digunakan untuk pelayanan kepada masyarakat, apabila kita berbicara tentang sistem informasi, maka semuanya mengacu pada sebuah sistem berbasis komputer yang dirancang untuk mendukung operasi, manajemen, dan fungsi pengambilan keputusan suatu organisasi
Menurut Robert K Leitch, dan K. Roscoe Davis (“Accounting Information System”, Prentice-Hall, New Jersey, 1983) sistem informasi adalah : “suatu sistem dalam didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan”.
Dalam sebagian besar persoalan manusia dan mesin membentuk sebuah sistem gabungan dengan hasil yang diperoleh melalui serangkaian dialog dan interaksi antara komputer dan seorang manusia pengolah. Konsep mesin-manusia berarti bahwa perancang sebuah sistem informasi harus memahami kemampuan manusia sebagai pengolah informasi dan perilaku manusia dalam pengambilan keputusan.
Dalam berinteraksi dengan komputer, para pemakai pertama kali akan berhadapan dengan perangkat keras komputer. Untuk sampai pada isi yang ingin disampaikan oleh perangkat lunak, pemakai dihadapkan terlebih dahulu dengan seperangkat alat seperti papan ketik (keyboard), monitor, mouse, joystick, dan lain-lain. Pemakai harus dapat mengoperasikan seperangkat alat tersebut. Selanjutnya, pemakai akan berhadapan dengan macam-macam tampilan menu, macam-macam perintah yang terdiri dari kata atau kata-kata yang harus diketikkannya, misalnya save, copy, delete, atau macam-macam ikon. Peralatan, perintah, ikon dan lain-lain yang disebutkan di atas dikenal dengan nama interface (antarmuka). Interface ini merupakan lapisan pertama yang langsung bertatap muka dengan pemakai.
Tanpa disadari kita (manusia/user) telah berinteraksi atau berdialog dengan sebuah benda (layar monitor), yaitu dalam bentuk menekan tombol berupa tombol angka dan huruf yang ada pada keyboard atau melakukan satu sentuhan kecil pada mouse, kemudian hasil inputan ini akan berubah bentuk menjadi informasi atau data yang seperti diharapkan manusia dengan tertampilnya informasi baru tersebut pada layar monitor atau bahkan mesin pencetak (printer).
Contoh nyata Sistem Mesin-Manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah sistem informasi perpustakaan. Sistem informasi perpustakaan dapat didefinisikan sebagai berikut: “ sebuah sistem terintegrasi, sistem manusia mesin, untuk menyediakan informasi yang mendukung operasi, manajemen, dan fungsi pengambilan keputusan dalam sebuah perpustakaan”. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajeman, dan pengambilan keputusan basis data
Dari definisi diatas terdapat beberapa kata kunci :
Berbasis Sistem Mesin-Manusia
•Sistem manusia mesin: ada interaksi antara manusia sebagai pengelola dan mesin sebagai alat untuk memroses informasi. Ada proses manual yang harus dilakukan manusia dan ada proses yang terotomasi oleh mesin. Oleh karena itu diperlukan suatu prosedur atau manual sistem.
Sistem basis data terintegrasi
•Adanya penggunaan basis data secara bersama-sama (sharing) dalam sebuah data base manajemen system.
•Operasi Informasi yang diolah dan dihasilkan digunakan untuk mendukung operasi perpustakaan.
•Pemanfaatan model manajemen dan pengambilan keputusan
•Untuk dapat mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat digunakan model-model manajemen dan pengambilan keputusan.
Pada intinya sistem informasi perpustakaan selalu disandarkan pada prosedur manual yang biasa dilakukan, untuk kemudian diaplikasikan kedalam sebuah sistem yang dirasa bisa lebih efisien.
Berdasarkan contoh di atas, maka Sistem Mesin-Manusia dapat diartikan sebagai suatu sistem dimana kedua komponen harus bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan. Masing-masing komponen ( komponen manusia saja, atau komponen mesin saja) tidak berarti tanpa adanya komponen yang lain sebagai pelengkapnya. Tugas dalam merancang sistem Mesin-Manusia ialah guna menentukan cara yang paling efektif untuk menyajikan keterangan kepada operator manusia dengan menggunakan peragaan penglihatan, peragaan pendengaran, dan peragaan perabaan (visual, auditory, tectual display).
Sistem Mesin-Manusia secara umum dapat digambarkan prosesnya sebagai berikut :
1. Tenaga kerja menerima masukan dalam bentuk perintah, instruksi, informasi, bahan mentah, dan sebagainya melalui indera penglihatan dan/atau indera pendengaran;
2. Masukan diolah, terjadi proses berpikir, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan;
3. Tenaga kerja melaksanakan perintahnya, melaksanakan tugasnya dengan mengoperasikan dan mengendalikan alat dan mesin dengan menggunakan alat-alat operasi/kendali seperti tombol, kenop, hendel, tongkat, dan alat kendali lain.
4. Mesin melakukan apa yang harus ia lakukan;
5. Lewat peraga penglihatan (visual display) dan atau peraga pendengaran (auditory display) dapat diketahui bagaimana mesin berfungsi. Hasil kerja mesin merupakan keluaran, bagaimana mesin bekerja merupakan masukan bagi operator yang harus memutuskan apakah mesin telah bekerja sesuai dengan yang diharapkan ataukah harus diambil tindakan perbaikan. Dalam hal yang terakhir operator harus melakukan tindakan korektif dengan mengoperasikan alat operasi atau kendali. Mesin bekerja setelah ada koreksi dan melalui peraga operator mengetahui tentang bekerjanya mesin dan seterusnya.